Pages

Senin, 29 Oktober 2012

Biografi Irene Kharisma Sukandar


Irene Kharisma Sukandar lahir di Jakarta pada tanggal 7 April 1992. Ia adalah seorang pecatur Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar Grand Master Internasional Wanita (GMIW) terhitung mulai Desember 2008.. Irene merupakan putri kedua dari tiga bersaudara, pasangan Singgih Heyzkel dan Cici Ratna Mulya. Kini ia duduk sebagai siswi kelas II SMA Nusantara, Jakarta. Tetapi, karena kesibukannya berlatih atau bertanding catur, terpaksa ia sering bolos sekolah. Lucunya, ia tidak hafal nama teman-teman sekelasnya. “Soalnya, frekuensi kita ketemu jarang. Bahkan, apa opini mereka tentang saya, saya nggak tahu banget,” katanya. Di luar kesibukannya bertanding atau berlatih catur, ia pun punya sederet hobi. Antara lain, membaca buku-buku sejarah, bermain biliard, mendengarkan musik instrumental dan acapella, atau lari pagi. Irene memang putri kebanggaan Indonesia. Apa cita-citanya? Sama seperti apa yang ia raih dari Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) dan Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI), “Saya ingin meraih gelar Grand Master dan juara dunia,” katanya, tandas. 
Memang, awalnya Irene Kharisma Sukandar sempat menekuni olahraga tenis meja. Sebab, kebetulan ayahnya pemain tenis meja. Tapi orang tuanya kemudian membebaskannya memilih. Bahkan mendorongnya mendalami catur yang merupakan olah raga otak, dan ia lebih tertarik. Alasannya, selain mudah dimainkan, olahraga ini juga dapat menambah tingkat intelegensia. “Saya memang lebih suka catur ketimbang olahraga fisik. Lagi pula kakak saya, Kaisar ‘kan juga pemain catur,” katanya. Awalnya Irene mengikuti kejuaraan catur pada kejurnas catur tahun 1999 di Bekasi, Jawa Barat, tim Sumatera Selatan kekurangan satu pemain. Ia pun akhirnya didaftarkan oleh tim Sumsel. Itulah awal keikutsertaannya dalam event nasional. Karena baru beberapa bulan mengenal catur, hasil yang dicapai di kejurnas itu memang belum menggembirakan. Ia sama sekali tidak memperoleh nilai. Tapi, sejak itu Irene Kharisma Sukandar merasa tertantang. Maka, mulailah ia serius belajar catur sampai akhirnya masuk Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Bekasi.
Sudah enam tahun Irene berlatih dan belajar catur di SCUA Bekasi, milik pengusaha yang juga penggila catur, Ir Eka Putra Wirya. Di sekolah ini ia ditangani mantan pecatur nasional, MI Ivan Situru. Meski baru enam tahun digembleng di SCUA, ia telah memperlihatkan kemampuannya. Bahkan sulit tertandingi oleh para pecatur perempuan lain di sekolah itu. Irene mengatakan dalam permainan catur diperlukan konsentrasi dan harus fokus. Pecatur, seperti atlet cabang olahraga apa pun, harus menunjukkan permainan terbaik dalam setiap pertandingan. Tapi, bukan sekadar ingin menang. “Kalau hanya berpikir ingin menang, jangkauan berpikir kita akan pendek. Kita akan cenderung mengabaikan kualitas permainan,” ujarnya dengan kebijakan yang mengagumkan. Baginya, apa pun hasil akhirnya, Irene Kharisma Sukandar harus menerima. Yang penting, kualitas permainan maksimal. Dengan begitu, “Kesan dalam setiap pertandingan bagi saya sama saja. Nggak ada yang terlalu wah, atau down sekali,” ujarnya, ringan.
Bagi Irene pun, catur merupakan permainan sulit. “Catur adalah permainan yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Tapi sampai sekarang belum terpecahkan. Misalnya, bagaimana cara menang yang benar,” katanya. Namun, bagaimana pun, catur ‘”katanya‘” adalah permainan dinamis. Banyak perkembangan baru yang harus diikuti. “Pokoknya, yang namanya ilmu catur itu nggak ada habisnya. Ada bermiliar-miliar strategi, dan bermiliar-miliar ide. Juga banyak sekali posisinya,” katanya. Bagi kebanyakan orang, catur mungkin cuma kegiatan mengisi waktu luang. Atau sekadar untuk bersantai. Tapi bagi Irene catur merupakan olahraga yang dirasa match dengan karakter dirinya.
Bakatnya dalam dunia catur memang luar biasa. Ia mengenal catur sejak usia tujuh tahun, tepatnya tahun 1999. Dua tahun kemudian, pada tahun 2001, di usia sembilan tahun ia telah meraih gelar Master Percasi (MP). Setelah itu, prestasinya terus berderet. Tahun 2002, ia memperoleh gelar Master Nasional Wanita (MNW). Bahkan, tahun 2004 ketika berlangsung Olimpiade Catur di Malorca, Spanyol, ia berhasil merebut gelar Master FIDE Wanita (MFW). Bukan saja itu. Ia juga meraih medali perak dalam arena yang melibatkan 864 peserta dari 107 negara. Sebelumnya ia juga meraih Juara 3 Kelompok Umur (KU) 10 Kejuaraan Catur ASEAN (2002) di Singapura. Juara 4 KU 10 tahun Kejuaraan Catur ASEAN di Malaysia 2003. Dua medali perak pada SEA Games Vietnam (2003). Peringkat ke-9 Kejuaraan Dunia Junior di Yunani (2003). Medali perak Olimpiade Catur papan tiga di Spanyol (2003). Peringkat ke-14 Kejuaraan Dunia Junior di bawah 14 tahun di Pulau Kreta, Yunani (2004). Juga medali perak Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura (2004). Imbang 3-3 dalam dwitarung melawan GMW Corke (2005). Corke adalah juara 1 Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura.
Tentu, berbagai prestasi itu bukan karena faktor kebetulan. “Untuk itu, saya harus fokus, dan rajin latihan bertanding,” katanya. Baginya, kemenangannya dalam berbagai kompetisi dirasa sebagai prospek panjang untuk perkembangan kariernya di masa datang. Apalagi, kini ia memang sedang berada pada fase usia produktif untuk berprestasi. “Tetapi, satu atau dua tahun ke depan, mungkin agak beda. Otak pasti juga akan terpakai untuk hal-hal lain. Karena itu, sekarang saya emang fokus untuk satu cabang ini saja,” ujar pengidola Judith Polgar, pecatur Hungaria ini.

Prestasi
  • Juara 3 Kelompok Umur (KU) 10 Kejuaraan Catur ASEAN 2002 di Singapura
  • Juara 4 KU 10 tahun Kejuaraan Catur ASEAN di Malaysia 2003
  • Dua medali perak pada SEA Games Vietnam 2003
  • Peringkat ke-9 Kejuaraan Dunia Junior di Yunani 2003
  • Medali perak Olimpiade Catur papan tiga di Spanyol 2003
  • Peringkat ke-14 Kejuaraan Dunia Junior di bawah 14 tahun di Pulau Kreta, Yunani 2004
  • Medali perak Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura 2004
  • Imbang 3-3 dalam dwitarung melawan GMW Corke 2005. Corke adalah juara 1 Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura
  • The Best Woman Player pada Malaysia Open 2008
  • Imbang 2-2 melawan IM Tania Sachdev dalam dwilomba JAPFA 2010
  • Juara 1 dalam Brunei Invitational IM Tournament 1 dan juara 2 dalam Brunei Invitational IM Tournament 2 di tahun 2010
  • Juara 1 Asian Continental Chess Championship di Vietnam tahun 2012
Sumber :

Analisis Biografi Irene Kharisma Sukandar

Latar Belakang Irene Kharisma Sukandar Menekuni Catur
Awalnya Irene Kharisma Sukandar sempat menekuni olahraga tenis meja. Sebab, kebetulan ayahnya pemain tenis meja. Tapi orang tuanya kemudian membebaskannya memilih. Bahkan mendorongnya mendalami catur yang merupakan olah raga otak, dan ia lebih tertarik. Alasannya, selain mudah dimainkan, olahraga ini juga dapat menambah tingkat intelegensia. Irene mengaku bahwa diriny amemang lebih suka catur daripada olahraga fisik. Dia pun termotivasi Kaisar, kakaknya yang juga pemain catur.
Awalnya Irene mengikuti kejuaraan catur pada kejurnas catur tahun 1999 di Bekasi, Jawa Barat, tim Sumatera Selatan kekurangan satu pemain. Ia pun akhirnya didaftarkan oleh tim Sumsel. Itulah awal keikutsertaannya dalam event nasional. Karena baru beberapa bulan mengenal catur, hasil yang dicapai di kejurnas itu memang belum menggembirakan. Ia sama sekali tidak memperoleh nilai. Tapi, sejak itu Irene Kharisma Sukandar merasa tertantang. Maka, mulailah ia serius belajar catur sampai akhirnya masuk Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Bekasi. Itulah latar belakang Irene Kharisma Sukandar mencintai dan menekuni catur.

Pandangan hidup Irene Kharisma Sukandar
Irene menganggap catur merupakan permainan sulit. Menurut dia, catur adalah permainan yang sudah ada sejak berabad-abad lalu tapi sampai sekarang belum terpecahkan. Dia mengaku bahwa dia belum mengetahui secara pasti bagaimana cara menang yang benar. Meskipun dia seorang Grand Master, dia tak pernah menganggap dirinya hebat, dia tetap rendah dan menganggap bahwa dia belum tahu banyak tentang cara menang dengan benar.
Irene berpendapat bahwa catur adalah permainan dinamis karena banyak perkembangan baru yang harus diikuti. Ada bermiliar-miliar strategi, dan bermiliar-miliar ide yang masih bisa ditemukan.  Posisi yang mungkin terjadi juga tak terbatas jumlahnya. Namun, dia menganggap catur adalah olahraga yang sesuai dengan karakter dirinya.

Perjuangan Irene Kharisma Sukandar
Perjalanan Irene Kharisma Sukandar menjadi seorang Grand Master tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus rela sering tidak masuk sekolah untuk berlatih dan bertanding catur. Motivasi dari keluarganya juga menjadi faktor penting untuk menunjang dia menjadi pecatur yang handal. Dia pun harus digembleng di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Bekasi selama 6 tahun demi tercapai cita-citanya. Di sekolah milik pengusaha yang juga penggila catur, Ir Eka Putra Wirya ini, dia ditangani mantan pecatur nasional, MI Ivan Situru. Dia berhasil menjadi murid yang sulit tertandingi oleh para pecatur perempuan lain di sekolah itu. Irene adalah sosok yang rajin dan tekun berlatih dan mengikuti kompetisi catur.

Prestasi Irene Kharisma Sukandar
Meskipun usianya masih muda, Irene Kharisma Sukandar memiliki segudang prestasi yang membanggakan. Pada tahun 2001, di usia sembilan tahun ia telah meraih gelar Master Percasi (MP). Tahun 2002, ia memperoleh gelar Master Nasional Wanita (MNW). Bahkan, tahun 2004 ketika berlangsung Olimpiade Catur di Malorca, Spanyol, ia berhasil merebut gelar Master FIDE Wanita (MFW).
Prestasi lain juga tak kalah membanggakan. Irene meraih medali perak dalam arena yang melibatkan 864 peserta dari 107 negara. Sebelumnya ia juga meraih Juara 3 Kelompok Umur (KU) 10 Kejuaraan Catur ASEAN (2002) di Singapura. Juara 4 KU 10 tahun Kejuaraan Catur ASEAN di Malaysia 2003. Mendapatkan medali perak pada SEA Games Vietnam (2003). Menempati peringkat ke-9 Kejuaraan Dunia Junior di Yunani (2003). Meraih medali perak Olimpiade Catur papan tiga di Spanyol (2003). Peringkat ke-14 Kejuaraan Dunia Junior di bawah 14 tahun di Pulau Kreta, Yunani (2004). Dan memperoleh medali perak Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura (2004). Pada tahun 2005, ia juga menahan imbang 3-3 dalam dwitarung melawan GMW Corke, juara 1 Kejuaraan Catur Asia di bawah 14 tahun di Singapura.

Jasa Irene Kharisma Sukandar
Sangat banyak jasa yang telah diukir Irene Kharisma Sukandar. Mengharumkan nama bangsa di berbagai kontes catur dunia merupakan salah satu jasa yang besar bagi bangsa Indonesia. Jasa yang tak kalah penting adalah dia berhasil mengukir nama sebagai Grand Master Internasional Wanita (GMIW) pertama yang berasal dari Indonesia selain menjadi Master Nasional Wanita (MNW) dan menjadi Master FIDE Wanita (MFW).



Hal yang perlu diteladani dari Irene Kharisma Sukandar
Banyak hal yang perlu diteladani dari Irene Kharisma Sukandar. Selain semangatnya yang membara, perjuangan dan usahanya juga maksimal. Itulah yang membuat dia yakin dan bisa meraih cita-citanya menjadi seorang Grand Master.
Irene selalu fokus dan tekun dalam berlatih. Dia tak pernah menyerah ketika harus dikalahkan pemain lain dalam suatu pertandingan. Kekalahan itu akan dia jadikan motivasi untuk lebih baik kedepannya. Dan dia selalu optimis bahwa dia akan meraih mimpinya.

Refleksi
Seandainya saya menjadi Irene Kharisma Sukandar, akan saya tularkan semangat juang saya ke atlit-atlit catur yang ada di Indonesia. Saya akan memotivasi mereka agar mereka juga bisa mengharumkan nama Indonesia dibidang olahraga catur. Hal ini akan mengurangi anggapan buruk mengenai Indonesia yang ‘katanya’ negara kotor yang tak memiliki kekuatan. Melalui olahraga catur, kita harus membuktikan kepada dunia bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang ‘bisa dan cerdas’. Untuk memuluskan semuanya, saya juga ingin berbagi pengalaman dan menjadi guru  bagi mereka agar mereka lebih siap menghadapi persaingan dengan dunia luar yang semakin ketat.


Tidak ada komentar: